Kamis, 02 Oktober 2014

Model Konseling Gestalt Teraphy



    II.            TERAPI GESTALT

A.     Latar Belakang

Psikologi Gestalt, yang didirikan oleh Max Wertheimer, merupakan kelanjutan dari pemberontakan terhadap molekularisme program Wundt terhadap psikologi, yang menuai simpati banyak orang pada waktu itu, termasuk di dalamnya William James. Kata Gestalt bermakna keseluruhan yang bersatu atau penuh makna, yang malah fokus pada kajian psikologis.

B.      Frederick S Fritz Perls (1893-1970) : Tokoh Utama Terapi Gestalt
Terapi Gestalt yang dikembangkan oleh Frederick Perls adalah bentuk terapi eksistensial yang berpijak pada premis bahwa individu-individu menemukan jalan hidupnya sendiri dan menerima tanggung jawab pribadi jika mereka berharap mencapai kematangan. Terapi gestalt berfokus pada apa dan bagaimana-nya tingkah laku dan pengalaman disini dan sekarang dengan memadukan (mengintegrasikan) bagian-bagian kepribadian yang terpecah dan tak diketahui
Tugas utama terapis adalah membantu klien agar mengalami sepenuhnya keberadaannya disini dan sekarang dengan menyadarkannya atas tindakannya mencegah diri sendiri merasakan dan mengalami saat sekarang. Oleh karena itu terapi Gestalt pada dasarnya non interpratatif dan sedapat mungkin, klien menyelenggarakan terapi sendiri.

C.     HAKEKAT MANUSIA

Pandangan Tentang Sifat Manusia

Pandangan Gestalt tentang manusia berakar pada filsafat eksistensial dan fenomenologi. Pandangan ini menekankan konsep-konsep seperti perluasan kesadaran penerimaan tanggung jawab pribadi, kesatuan pribadi dan mengalami cara-cara yang menghambat kesadaran. Dalam terapinya, pendekatan Gestalt berfokus pada pemulihan kesadaran serta pada pemaduan polaritas-polaritas dan dikotomi-dikotomi dalam diri. Terapi diarahkan bukan pada analis, melainkan pada integrasi yang berjalan selangkah demi selangkah dalam terapi sampai klien menjadi cukup kuat untuk menunjang pertumbuhan pribadinya sendiri. Pandangan gestalt adalah bahwa individu memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab pribadi dan hidup sepenuhnya sebagai pribadi yang terpadu. Disebabkan oleh masalah-masalah tertentu dalam perkembangannya, individu membentuk berbagai cara menghindari masalah dan karenanya, menemui jalan buntu dalam pertumbuhan pribadinya. Terapi menyajikan interuensi dan tantangan yang diperlukan, yang bisa membantu individu memperoleh pengetahuan dan kesadaran sambil melangkah menuju pemanduan dan pertumbuhannya. Dengan mengakui dan mengalami penghambat-penghambat pertumbuhannya, maka kesadaran individu atas penghambat-penghambat itu akan meningkat sehingga dia kemudian bisa mengumpulkan kekuatan guna mencapai keberadaan yang lebih otentik dan vital.

Saat sekarang

Bagi Perls, tidak ada yang “ada” kecuali “sekarang”. Karena masa lampau telah pergi dan masa depan belum datang, maka saat sekaranglah yang penting. Salah satu sumbangan utama dari terapi Gestalt adalah penekanannya pada disini dan sekarang serta pada belajar menghargai dan mengalami sepenuhnya saat sekarang. Ketika membicarakan “etos saat sekarang” Polster dan Polster (1973) mengembangkan tesis bahwa “Kekuatan ada pada saat sekarang”. Pandangan mereka adalah “Kebenaran yang paling sulit diajarkan bahwa hanya sekaranglah yang ada dan bahwa menyimpang darinya berarti menyimpang dari kualitas hidup yang ada pada kenyataan” (Polster dan Polster,1973, hlm 7).
Terapis Gestalt secara aktif menunjukkan bagaimana klien bisa dengan mudah lari dari saat sekarang dan memasuki masa lampau atau masa depan.
Sasaran Perls adalah membantu orang-orang membuat hubungan dengan pengalaman mereka secara jelas dan segera ketimbang semata-mata berbicara tentang pengalaman-pengalaman itu.
Perls yakin bahwa orang-orang cenderung bergantung pada masa lampau untuk membenarkan ketidaksediannya memikul tanggung jawab atas dirinya sendiri dan atas pertumbuhannya. Perls melihat sebagian besar orang mendapat kesulitan untuk tinggal pada saat sekarang. Mereka lebih suka melakukan sesuatu yang lain dari pada menjadi sadar betapa mereka telah mencegah diri sendiri menjalani hidup sepenuhnya.

Urusan Yang Tak Selesai

Dalam terapi Gestalt terdapat konsep tentang urusan yang tak selesai, yakni mencakup perasaan-perasaan yang tidak terungkap seperti dendam, kemarahan, kebencian, sakit hati. Kecemasan, kedudukan, rasa berdosa, rasa diabaikan, dan sebagainya.
Urusan yang tak selesai itu akan bertahan sampai ia menghadapi dan menangani perasaan-perasaan yang tak terungkap itu. Ketika berbicara tentang pengaruh-pengaruh urusan yang tak selesai, Polster dan Polster (1973, hlm. 36) mengatakan, “Arah-arah yang tak selesai itu mencari penyelesaian dan apabila arah-arah tersebut memperoleh cukup kekuatan, maka individu disulitkan oleh pikiran yang tak berkesudahan, tingkah laku kompulsif, kehati-hatian, energi yang menekan, dan banyak perilaku mengalahkan diri”.
Bagaimana urusan yang tak selesai membentuk pusat keberadaan seseorang, maka semangat pemikiran orang itu menjadi terhambat. Idealnya, orang yang tak terhambat memiliki kebebasan untuk terlibat secara spontan dengan apa saya yang diminatinya sampai minatnya itu terpuaskan dan sesuatu yang lain mengundang perhatiannya. Itu adalah suatu proses yang alamiah. Orang yang hidup menurut irama ini merasa dirinya lues, terbuka dan efektif (Polster dan Polster, 1973, hlm.37).
Menurut Polster dan Polster, terdapat dua kutub penghalang yang menghambat proses. Yang satu adalah obsesi atau kompulsi yang mengarah pada suatu kebutuhan yang kaku untuk menyelesaikan urusan yang tak selesai. Yang lainnya adalah pengalaman belalang yang fokusnya begitu cepar berlalu sehingga penyelesaiannya menjadi terhambat.
Dalam pandangan Perls, rasa sesal menjadikan individu terpaku, yakni dia tidak  bisa mendekati atau terlibat komunikasi yang otentik sampai dia mengungkapkan rasa sesalnya itu. Jadi menurut Perls, pengungkapan rasa sesal itu merupakan suatu keharusan. Rasa sesal yang tidak terungkapkan acap kali berubah menjadi perasaan berdosa

Pengingkaran

a.      Sarana menghindarkan diri dr menghadapi tugas yg blm selesai dan pengalaman yg tdk mengenakkan
b.     Sebagian besar orang > suka menghindarkan diri dari pengalaman emosi yg menyakitkan daripada berbuat sesat yg diperlukan untuk mendapat perubahan
c.      Sulit membebaskan diri diri kesulitan, memblokir kemungkinan mereka untuk tumbuh

Lapisan Neurosis
Menyamakan pembeberan kepribadian orang dewasa dengan pengulitan bawang merah (mengupas lima lapisan neurosis : pura-pura (latah tdk otentik, hayal), fobia (menghindar dr kepedihan emosional dengan melihat aspek yg ada dalam diri untuk diingkari), buntu (terpaku dlm proses pendewasaan diri), implosif (menghayati kematian, bukan mengingkari atau melarikan diri), eksplosif (melepaskan peranan semu dan kepura-puraan, ledakan menuju kepedihan atau keceriaan).

Kontak Serta Resistensi Terhadap Kontak
a.      Bila kita mengadakan kontak dengan lingkungan, adanya perubahan tidak bisa dihindarkan
b.     Kontak efektif, berinteraksi dengan org lain tanpa hrs menghilangkan rasa kepribadiannya
c.      Kontak efektif, penyesuaian pribadi dengan lingkungan  yang kreatif, dan pembaharuan tanpa henti
d.      Bertindak mempertahankan diri yang kita kembangkan agar kita tidak menghayati masa kini scr penuh dan sesuai kenyataan (spt MPE, dlm hal ini 5 lapisan neurosis)





Tujuan Terapi Gestalt

Tujuan utama konseling Gestalt adalah membantu klien agar berani menghadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapinya sedangkan tujuan spesifik terapi ini adalah ;
a.       Membantu klien agar dapat memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan atau realitas, serta mendapatkan insight secara penuh.
b.      Membantu klien menuju pencapaian integritas kepribadiannya.
c.       Mengentaskan klien dari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri.
d.      Meningkatkan kesadaran individu agar klien dapat bertingkah laku menurut prinsip – prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik

 

E.      PROSES TERAPUETIK


Tujuan terapi Gestalt bukanlah penyesuaian terhadap masyarakat Sasaran utama terapi Gestalt adalah pencapaian kesadaran. Kesadaran dengan dan pada diri sendiri dipandang kuratif. Tanpa kesadaran, klien tidak memiliki alat untuk mengubah kepribadiannya. Dengan kesadaran, klien memiliki kesanggupan untuk menghadapi dan menerima bagian-bagian keberadaan yang diingkarinya serta untuk berhubungan dengan pengalaman-pengalaman subjektif dan dengan kenyataan. Klien bisa menjadi suatu kesatuan dan menyeluruh. Apabila klien menjadi sadar, maka urusannya yang tidak selesai akan selalu muncul sehingga bisa ditangani dalam terapi.

Prinsip kerja Konseling Gestalt

a.            Penekanan Tanggung jawab Klien
b.           Orientasi Sekarang dan di Sini
c.            Orientasi Eksperiensial


Fungsi dan peran terapis

Terapi Gestalt difokuskan pada perasaan-perasaan klien, kesadaran atas saat sekarang, pesan-pesan tubuh, dan penghambat-penghambat kesadaran (Corey, 1995: 338).
Sasaran terapis adalah kematangan klien dan pembongkaran “hambatan-hambatan yang mengurangi kemampuan klien berdiri di atas kaki sendiri”. Tugas terapis adalah membantu klien dalam melaksanakan peralihan dari dukungan eksternal kepada dukungan internal dengan menentukan letak jalan buntu.
Terapis membantu kliennya agar menyadari dan menembus jalan buntu dengan menghadirkan situasi-situasi yang mendorong kliennya itu untuk mengalami keterpurukannya secara penuh. Perls yakin bahwa frustasi-frustasi itu perlu bagi pertumbuhan, sebab tanpa frustasi, orang tidak merasa perlu menggali sumber-sumber dirinya dan menyadari bahwa dia bisa memanipulasi dirinya sendiri sebaik manipulasi yang dilakukannya terhadap orang lai . jika tidak hati-hati, maka terapis pun akan tersedot ke dalam manipulasi-manipulasi klien.
Perls (1996 a hlm.36) mengemukakan bahwa cara untuk menghindari manipulasi yang mungkin dilakukan klien adalah membiarkan klien menemukan sendiri potensi-potensinya yang hilang. Tugas terapis adalah menyajikan situasi yang menunjang pertumbuhan dengan jalan mengonfrontasikan klien kepada titik tempat dia menghadapi suatu putusan apakah akan atau tidak akan mengembangkan potensi satu fungsi yang penting dari terapis Gestalt adalah memberikan perhatian pada bahasa tubuh kliennya.
Perls (1969a, hlm.54) mengatakan bahwa postur gerakan-gerakan, mimik-mimik muka, keraguan dan sebagainya, dapat menceritakan kisah yang sesungguhnya. Ia mengingatkan bahwa komunikasi verbal sering mengandung kebohongan dan bahwa jika terapis terpusat pada isi, maka dia kehilangan esensi pribadi klien. Komunikasi yang nyata ada di seberang kata-kata.
Terapis Gestalt sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti : Apa yang dikatakan oleh mata anda ? jika saat ini tangan anda bisa bicara, apa yang akan dikatakannya ? Dapatkah anda melangsungkan percakapan antara tangan kanan dan tangan kiri anda ? Orientasi umum dari terapi Gestalt adalah pemikulan tanggung jawab yang lebih besar oleh klien bagi mereka sendiri, bagi pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan tingkah laku mereka. Terapis mengonfrontasikan kliennya dengan cara-cara mereka sekarang menghindari tanggung jawab mereka serta meminta mereka agar membuat keputusan-keputusan tentang kelanjutan terapi. Tentang apa yang ingin mereka pelajari dari terapi dan tentang bagaimana mereka ingin menggunakanwaktu terapinya. Persoalan-persoalan lain yang bisa dijadikan butir utama trapi bisa mencakup hubungan antara klien dan trapis serta cara-cara berhubungan yang digunakan oleh klien dengan terapis yang sama dengan yang digunakannya diluar pertemuan terapi.
Secara singkat peran terapis dalam konseling gestalt ini adalah ;
a.      Menolong klien bisa mengadakan transisi dari dukunagn eksternal menjadi dukungan internal dan ini dialkuakn denagn jalan menemukan lokasi impas. Impas yaitu titik di mana seseorang individu menghindar penghayatan perasaan yang mengancam oleh karenadia mearsa kurang nyaman.
b.     Menaruh perhatian pada bahasa tubuh klien juga memberikan tekanan pada hubungan anatra pola bahasa dengan kepribadian (Corey, 1995: 339-340)
Sementara klien dalam terapi Gestalt adalah partisipan-partisipan aktif yang membuat penafsiarn-penafsiran dan makna-maknanya sendiri. Merekalah yang mencapai peningkatan kesadaran dan yang menentukan apa yang akan dan tidak akan dilakukan dalam proses belajarnya.(Corey, 1995: 341-342).

Hubungan antara terapis  dan klien.
Praktek terapi Gestalt yang efektif melibatkan hubungan pribadi ke pribadi antara terapis dan klien. Yang penting adalah terapis secara aktif berbagi persepsi-persepsi dan pengalaman-pengalaman saat sekarang ketika dia menghadapi klien disin dan sekarang. Disamping itu, terapis memberikan umpan balik, terutama yang berkaitan dengan apa yang dilakukan oleh klien melalui tubuhnya. Terapis harus menghadapi klien dengan reaksi-reaksi yang jujur dan langsung serta menantang manipulasi-manipulasi klien tanpa menolak klien sebagai pribadi (Corey, 1995: 344).
E.     Teknik-teknik dan Prosedur Terapeutik

Teknik-teknik terapi Gestalt meliputi

a.             Latihan  Dialog
b.            Berkeliling
c.             Latihan saya Bertanggung Jawab
d.            Bermain Proyeksi
e.             Teknik Pembalikan
f.             Tetap dengan Perasaan
g.             Permainan Ulangan
h.            Permainan melebih - lebihkan

           
            Terapi Gestalt adalah lebih dari sekedar sekumpulan teknik atau “permainan-permainan”. Apabila interaksi pribadi antara terapis dan klien merupakan inti dari proses terapeutik, teknik-teknik bisa berguna sebagai alat untuk membantu klien guna memperoleh kesadaran yang lebih penuh.
            Levitsky dan Peris (1970 : 144-149) menyajikan suatu uraian ringkas tentang sejumlah permainan yang bisa digunakan dalam terapi gestalt antara lain :
-          Permainan dialog
Terapi gestalt menaruh perhatian yang besar pada pemisahan dalam fungsi kepribadian. Yang paling utama adalah pemisahan antara : “top dog” dan “underdog”. Teknik kursi kosong adalah suatu cara untuk mengajak klien agar mengeksternalisasi introyeksinya. Dalam teknik ini dua kursi diletakkan di tengah ruangan. Terapis meminta klien untuk duduk di kursi yang satu dan memainkan peran sebagai “top dog” dan kemudian pindah ke kursi lain dan menjadi “underdog”.
-          Berkeliling
Adalah suatu latihan terapi gestalt dimana klien diminta untuk berkeliling ke anggota-anggota kelompoknya dan berbicara atau melakukan sesuatu dengan setiap anggota itu. Maksud teknik ini adalah untuk menghadapi, memberanikan dan menyingkapkan diri, bereksperimen dengan tingkah laku yang baru.
-          Latihan saya bertanggung jawab atas …”
Dalam tahap ini, terapis meminta untuk membuat suatu pernyataan dan kemudian menambahkan pada pernyataan itu kalimat “dan saya bertanggung jawab untuk ini”.
Teknik ini merupakan perluasan kontinum kesadaran dan dirancang untuk membantu orang agar mengakui dan menerima perasaan-perasaan alih-alih memproyeksikan perasaan-perasaan atau kepada orang lain.
-          Saya memiliki suatu rahasia
Teknik ini dimaksudkan untuk mengeksplorasi perasaan-perasaan berdosa dan malu. Terapis meminta pada klien untuk berkhayal tentang suatu rahasia pribadi yang terjaga dengan baik. Membayangkan bagaimana perasaan mereka dan bagaimana orang lain bereaksi jika mereka membuka rahasia itu.
-          Bermain proyeksi
Dalam permainan “bermain proyeksi” terapis meminta klien yang mengatakan “saya tidak bisa mempercayaimu” untuk memainkan peran sebagai orang yang tidak bisa menaruh kepercayaan guna menyingkapkan sejauh mana ketidakpercayaan itu menjadi konflik dalam dirinya.
-          Teknik pembalikan
Teori yang melandasi teknik pembalikan adalah teori bahwa klien terjun kedalam suatu yang ditakutinya karena dianggap bisa menimbulkan kecemasan dan menjalin hubungan dengan bagian-bagian diri yang telah ditekan atau diingkarinya. Oleh karena itu, teknik ini bisa membantu para klien untuk mulai menerima atribut-atribut pribadinya yang telah dicoba diingkarinya.
-          Permainan ulangan
Menurut Perls, banyak pemikiran kita yang merupakan pengulangan. Dalam fantasi, kita mengulang-ulang peran yang kita anggap masyarakat mengharapkan kita memainkannya. Ketika tiba saat menampilkannya, biasanya kita mengalami demam panggung atau kecemasan yakni kita takut tidak mampu memainkan peran kita itu dengan baik. Pengulangan internal menghabiskan banyak energi serga acap kali menghambat spontanitas dan kesediaan kita untuk bereksperimen dengan tingkah laku baru.
-          Permainan melebihi-lebihkan
Permainan ini berhubungan dengan konsep peningkatan kesadaran atas tanda-tanda dan isyarat-isyarat halus yang dikirimkan oleh seseorang melalui bahasa tubuh, gerakan-gerakan, sikap-sikap badan, dan mimic muka bisa mengomunikasikan makna-makna yang penting. Begitupun isyarat-isyarat yang tidak lengkap. Klien diminta untuk melebih-lebihkan gerakan-gerakannya atau mimik muka secara berulang-ulang, yang biasanya mengitensifkan perasaan yang terpaut pada tingkah laku dan membuat makna bagian dalam lebih jelas.
-          Tetap dengan perasaan
Teknik ini bisa digunakan pada klien menunjukkan pada perasaan atau suasana hati yang tidak menyenangkan yang ia sangat ingin menghindarinya. Terapis mendesak klien untuk tetap dengan atau menahan perasaan yang ingin menghindarinya itu.
-          Pendekatan Gestalt terhadap kerja mimpi
Terapi gestalt tidak menafsirkan dan menganalisis mimpi, membawa kembali mimpi kepada kehidupan, menciptakan kembali mimpi. Konsep tentang proyeksi adalah dominant dalam teori perls tentang formasi mimpi. Menurut Perls setiap orang dan setiap obyek yang ada di dalam mimpi merepresentasikan aspek yang diproyeksikan oleh mimpi. Perls (1969a: 67) mengemukakan bahwa “kita bertolak dari asumsi yang mustahil bahwa apapun yang kita yakini, kita lihat dalam diri orang lain atau dalam dunia adalah tidak lain suatu proyeksi”.
      Pembahasan ringkas tentang kerja menangani mimpi ini dimaksudkan untuk memperkenalkan pembaca kepada cara umum dimana mimpi-mimpi merupakan teknik yang berguna dalam terapi gestalt (Corey, 1995: 351-356).
      Faktor-faktor yang berhubungan dengan penerapan yang pentas dari teknik-teknik gestalt adalah :
1.      Waktu
2.      Jenis klien yang ditangani
3.      Setting yang dihadapi.
      Shepherd (1970 : 234 - 235) menghubungkan diri dengan faktor-faktor tersebut dan menggarisbawahi soal-soal yang direfleksikannya :
“Pada umumnya terapi gestalt paling efektif menangani individu-individu yang disosialisasi secara berlebihan, terhambat dan mengerut yang sering dijabarkan sebagai neurotic, fobik, perfeksonistik, tidak efektif, despresif dan lain-lain yang fungsi psikologinya terbatas atau tidak konsisten. Terutama ditandai oleh restriksi-restriksi internalnya dan yang kesenangan hidupnya minimal. Sebagian besar upaya terapi gestalt karenanya diarahkan kepada orang-orang dengan ciri-ciri tersebut.

~~~~~~~~~~~~~~~

Model Konseling Kedua adalah Gestalt Teraphy.
Model atau pendekatan ini merupakan alternatif lain dari pendekatan layanan konseling.
Semakin banyak variasi jenis pendekatan yang digunakan oleh konselor dalam melaksanakan layanan, menunjukkan kompetensi dan kreatifitas konselor dalam menjalankan layanannya.
Bagi mahasiswa yang menempuh kuliah jurusan BK harus menguasai pendekatan-pendekatan alternatif ini,

~dosen pengampu: dakhandayani

Model Konseling Psychoanalysis Teraphy



I. PSYCHOANALYSIS TERAPHY
A.   Biografi Tokoh
Sigmund Freud (6 Mei 1856 - 23 September 1939) adalah seorang neurolog Austria dan pendiri aliran psikoanalisis dalam psikologi, gerakan yang mempopulerkan teori bahwa motif tak sadar mengendalikan sebagian besar perilaku. Selain itu ia juga memberikan pernyataan pada awalnya bahwa prilaku manusia didasari pada hasrat seksualitas pada awalnya (eros) yang pada awalnya dirasakan oleh manusia semenjak kecil dari Ibunya. Pengalaman seksual dari Ibu, seperti menyusui, selanjutnya mengalami perkembangannya atau tersublimasi hingga memunculkan berbagai prilaku lain yang disesuaikan dengan aturan norma masyarakat atau norma Ayah. Namun dalam perjalanannya setelah kolega kerjanya Alferd Adler, mengungkapkan adanya insting mati didalam diri manusia, walaupun Freud pada awalnya menolak pernyataan Adler tersebut dengan menyangkalnya habis-habisan, namun pada akhirnya Freudpun mensejajarkan atau tidak menunggalkan insting seksual saja yang ada didalam diri manusia, namun disandingkan dengan insting mati (Thanatos). Walaupun begitu dia tidak pernah menyinggung asal teori tersebut sebetulnya dikemukakan oleh Adler awal mulanya.
Freud tertarik dan belajar hipnotis di Perancis, lalu menggunakannya untuk membantu penderita penyakit mental. Freud kemudian meninggalkan hipnotis setelah ia berhasil menggunakan metode baru untuk menyembuhkan penderita tekanan Psikologis yaitu asosiasi bebas dan analisis mimpi. Dasar terciptanya metode tersebut adalah dari konsep alam bawah sadar, asosiasi bebas adalah metode yang digunakan untuk mengungkap masalah-masalah yang ditekan oleh diri seseorang namun terus mendorong keluar secara tidak disadari hingga menimbulkan permasalahan. Sedangkan Analisis Mimpi, digunakan oleh Freud dari pemahamannya bahwa mimpi merupakan pesan alam bawah sadar yang abstrak terhadap alam sadar, pesan-pesan ini berisi keinginan, ketakutan dan berbagai macam aktifitas emosi lain, hingga aktifitas emosi yang sama sekali tidak disadari. Sehingga metode Analisis Mimpi dapat digunakan untuk mengungkap pesan bawah sadar atau permasalahan terpendam, baik berupa hasrat, ketakutan, kekhawatiran, kemarahan yang tidak disadari karena ditekan oleh seseorang. Ketika hal masalah-masalah alam bawah sadar ini telah berhasil di-ungkap, maka untuk penyelesaian selanjutnya akan lebih mudah untuk diselesaikan.
Hal-hal ini dilakukan untuk mengembangkan sesuatu yang kini dikenal sebagai "obat dengan berbicara". Hal-hal ini menjadi unsur inti psikoanalisis. Freud terutama tertarik pada kondisi yang dulu disebut histeria dan sekarang disebut sindrom konversi.
Teori-teori Freud, dan caranya mengobati pasien, menimbulkan kontroversi di Wina abad kesembilan belas, dan masih diperdebatkan sengit di masa kini. Gagasan Freud biasanya dibahas dan dianalisis sebagai karya sastra, filsafat, dan budaya umum, selain sebagai debat yang berterusan sebagai risalah ilmiah dan kedokteran ini.
Buku pertamanya  “The Interpretasi of Dreams” tahun 1990, Freud menunjukkan bagaimana mimpi-mimpinya sendiri ia telaah dan ia tafsirkan, sehingga daripadanya ia memperoleh bahan yang berharga untuk memahami kehidupan psikis. Buku selanjutnya, Introductory Lecture on Psycho-analysis (1920), The Ego And The Id (1923), Future of an Illusion (1927), civilization and Its Discontents (1930), new introdutory lecture psycho-analysis (1940).

B.     Hakekat Manusia
Sifat manusia pada dasarnya adalah deterministik. Menurut Pendapat Freud, perilaku manusia ditentukan oleh kekuatan-kekuatan irasional, motivasi yang tidak disadari, dorongan biologis, serta dorongan naluri  dan peristiwa yang berhubungan dengan  psikoseksual pada masa enam tahun pertama.
Insting menurut pendekatan ini adalah sentral, pada mulanya menggunakan libido untuk menanyatakan energi seksual, dan akhirnya memperluas istilah itu untuk energi dari semua kehidupan. Freud juga mempunyai keyakinan benarnya konsep tentang insting maut, kata lain untuk dorongan agresif. Menurut pendapat ini baik dorongan seks maupun dorongan agresif merupakan determinan yang kuat mengapa orang berperilaku seperti apa yang dilakukan.

C.     Struktur Kepribadian

Menurut pandangan psikoanalitik, kepribadian terdiri dari tiga sistem yaitu id, ego, dan super-ego.
  1. Id : komponen kepribadian yang berisi impuls agresif dan orisinal, di mana psinsip kerjanya ‘Pleasure Principle’. Dikendalikan oleh prinsip kesenangan yang tujuannya untuk mengurangi ketegangan, menghindari penderitaan, dan mendapatkan kesenangan, maka id adalah tidak rasional, tidak bermoral, dan didorong oleh satu pertimbangan  demi terpenuhinya kepuasan kebutuhan yang bersifat insting  sesuai dengan prinsip kesenangan.
  2. Ego : bagian kepribadian yg bertugas sebagai pelaksana, sistem kerjanya pada dunia luar untuk  menilai realita dan berhubungan  dengan dunia. Ego berperan sebagai eksekutif yang memerintah,  mengendalikan, dan mengatur kepribadian. Dibawah perintah prinsip realitas, ego berpikir secara logis dan realitas serta memformulasikan rencana tindakan demi pemuasan kebutuhan.

  1. Superego : bagian moral dari kepribadian manusia, merupakan filter dari sensor baik-buruk, salah-benar, blh-tdk sst dilakukan oleh dorogan ego. Fungsinya adalah sebagai wadah impuls id, untuk menghimbau ego agar menggantikan tujuan yang moralistik dengan  yang realistik, serta memperjuangkan kesempurnaan
       Mekanisme Pertahanan Ego
Dalam aliran psikoanalisis dari Sigmund Freud, mekanisme pertahanan ego adalah strategi psikologis yang dilakukan seseorang, sekelompok orang, atau bahkan suatu bangsa untuk berhadapan dengan kenyataan dan mempertahankan citra-diri. Orang yang sehat biasa menggunakan berbagai mekanisme pertahanan selama hidupnya. Mekanisme tersebut menjadi patologis bila penggunaannya secara terus menerus membuat seseorang berperilaku mal-adaptif sehingga kesehatan fisik dan/atau mental orang itu turut terpengaruhi. Kegunaan mekanisme pertahan ego adalah untuk melindungi pikiran/diri/ego dari kecemasan, sanksi sosial atau untuk menjadi tempat "mengungsi" dari situasi yang tidak sanggup untuk dihadapi.
Mekanisme pertahanan dilakukan oleh ego sebagai salah satu bagian dalam struktur kepribadian menurut psikoanalisis Freud selain id, dan super ego. Mekanisme tersebut diperlukan saat impuls-impuls dari id mengalami konflik satu sama lain, atau impuls itu mengalami konflik dengan nilai dan kepercayaan dalam super ego, atau bila ada ancaman dari luar yang dihadapi ego.
Faktor penyebab perlunya dilakukan mekanisme pertahanan adalah kecemasan. Bila kecemasan sudah membuat seseorang merasa sangat terganggu, maka ego perlu menerapkan mekanisme pertahanan untuk melindungi individu. Rasa bersalah dan malu sering menyertai perasaan cemas. Kecemasan dirasakan sebagai peningkatan ketegangan fisik dan mental. Perasaan demikian akan terdorong untuk bertindak defensif terhadap apa yang dianggap membahayakannya. Penggunaan mekanisme pertahanan dilakukan dengan membelokan impuls id ke dalam bentuk yang bisa diterima, atau dengan tanpa disadari menghambat impuls tersebut.

Bentuk-bentuk mekanisme pertahanan ego ******************
  1. Represi (menindas, menekan, memberontak, menahan nafsu/amarah): Yang paling dasar di antara mekanisme pertahanan lainnya. suatu cara pertahanan untuk menyingkirkan dari kesadaran pikiran dan perasaan yang mengancam, represi terjadi secara tidak disadari.
  2. Denial /pengingkaran: Memainkan peran defensif, sama seperti represi. orang menyangkal untuk melihat atau menerima masalah atau aspek hidup yang menyulitkan. Denial beroperasi pada taraf preconscius atau conscious (“aware”, menyadari).
  3. Reaction Formation/pembentukan reaksi: Salah satu pertahanan terhadap impuls yang mengancam adalah secara aktif mengekspresikan impuls yang bertentangan dengan keinginan yang mengganggu, orang tidak usah harus menghadapi anxietas (emosi yang kronis), yang muncul seandainya ia menemukan dimensi yang ini (yang tidak dikehendaki) dari dirinya. Individu mungkin menyembunyikan kebencian dengan kepura-puraan cinta, atau menutupi kekejaman dengan keramahan yang berlebihan.
  4. Proyeksi: Mengatribusikan pikiran, perasaan, atau motif yang tidak dapat diterima kepada orang lain. mengatakan bahwa impuls-impuls ini dimiliki oleh “orang lain diluar sana, tidak oleh saya”. Misalnya seorang laki-laki yang tertarik secara seksual kepada anaknya perempuan, mengatakan bahwa anaknyalah yang bertingkah laku seduktif (menggoda), dengan demikian ia tidak usah harus menghadapi keinginannya sendiri.
  5. Displacement/pemindahan: salah satu cara menghadapi anxietas (emosi yang kronis) adalah dengan memindahkannya dari objek yang mengancam kepada objek “yang lebih aman”. misalnya orang penakut yang tidak kuasa melawan atasannya melampiaskan hostilitasnya (permusuhan) di rumah kepada anak-anaknya
  6. Rasionalisasi: kadang-kadang orang memproduksi alasan-alasan “baik” untuk menjelaskan egonya yang terhantam. Rasionalisasi membantu untuk membenarkan berbagai tingkah laku spesifik dan membantu untuk melemahkan pukulan yang berkaitan dengan kekecewaaan. Misalnya bila orang tidak mendapatkan posisi yang diinginkannya dalam pekerjaan, mereka memikirkan alasan-alasan logis mengapa mereka tidak mendapatkannya, dan kadang-kadang mereka berusaha membujuk dan meyakinkan dirinya sendiri bahwa sebenarnya dia tidak menghendaki posisi tersebut.
  7. Sublimasi (istilah dari para psikoanalisis, untuk sebuah proses tak sadar, sebuah impuls seksual, atau energinya dibelokkan dalam aktifitas yang bisa diterima secara sosial): Dari pandangan freud, banyak kontribusi artistik yang besar merupakan hasil dari penyaluran energi sosial atau agresif kedalam tingkah laku kreatif yang diterima secara sosial dan bahkan dikagumi. Misalnya impuls agresif dapat disalurkan menjadi prestasi olahraga.
  8. Regresi (pembalikan libido ke saluran ekspresi yang merupakan milik fase awal perkembangan): Beberapa orang kembali kepada bentuk tingkah laku yang sudah ditinggalkan. menghadapi stress atau tantangan besar, individu mungkin sudah berusaha untuk menanggulangi kecemasan dengan bertingkah laku tidak dewasa atau tak pantas.
  9. Introyeksi (penyerapan sifat-sifat personal orang lain sebagai bentuk identifikasi): Mekanisme introyeksi terdiri dari mengambil alih dan “menelan” nilai-nilai standar orang lain. misalnya seorang anak yang mengalami penganiayaan, mengambil alih cara orangtuanya menanggulangi stress, dan dengan demikian mengabadikan siklus penganiayaan anak. Introyeksi dapat pula positif, bila yang diambil alih adalah nilai-nilai positif dari orang-orang lain.
 Kesadaran dan ketidaksadaran
  1. Pemahaman tentang kesadaran dan ketidaksadaran manusia merupakan salah satu sumbangan terbesar dari pemikiran Freud. Menurutnya,

  1. Kunci untuk memahami perilaku dan problema kepribadian bermula dari hal tersebut.

  1. Kesadaran merupakan suatu bagian terkecil atau tipis dari keseluruhan pikiran manusia. Hal ini dapat diibaratkan seperti gunung es yang ada di bawah permukaan laut, dimana bongkahan es itu lebih besar di dalam ketimbang yang terlihat di permukaan. Demikianlah juga halnya dengan kepribadian manusia, semua pengalaman dan memori yang tertekan akan dihimpun dalam alam ketidaksadaran.

     Kecemasan
Kecemasan keadaan tegang yang memaksa kita berbuat sesuatu.  Kecemasan berkembang karena        konflik ego dan superego  mengenani kontrol akan energi psikis yang ada (Corey, 1995: 143).
Kecemasan itu ada tiga: kecemasan realita, neurotik dan moral.
            (1) kecemasan realita adalah rasa takut akan bahaya yang datang dari dunia luar dan derajat kecemasan semacam itu sangat tergantung kepada ancaman nyata.
            (2) kecemasan neurotik adalah rasa takut kalau-kalau instink akan keluar jalur dan menyebabkan sesorang berbuat  sesuatu yang dapat membuatnya terhukum, dan
            (3) kecemasan moral adalah rasa takut terhadap hati nuraninya sendiri. Orang yang hati nuraninya cukup berkembang cenderung merasa bersalah apabila berbuat sesuatu yang bertentangan dengan norma moral.

Tahap-Tahap Perkembangan Kepribadian
  1. Perkembangan manusia dalam psikoanalitik merupakan suatu gambaran yang sangat teliti dari proses perkembangan psikososial dan psikoseksual, mulai dari lahir sampai dewasa.

  1. Dalam teori Freud setiap manusia harus melewati serangkaian tahap perkembangan dalam proses menjadi dewasa. Tahap-tahap ini sangat penting bagi pembentukan sifat-sifat kepribadian yang bersifat menetap.


Kepribadian orang terbentuk pada usia sekitar 5-6 tahun :
         
(1) tahap oral, bayi perlu medapatkan kebutuhan pangan dari ibunya. Fiksasi oral adalah ketidak puasan masa oral pada waktu bayi, yaitu akan berakibat menjadi individu yang tidak mudah percaya pada orang lain, penolakan terhadap cinta kasih, rasa takut dan ketidak mampuan menciptakan hubungan yang akrab dengan orang lain.

            (2) tahap anal: 1-3 tahun, sona anal menjadi bagian signifikan dalam perkembangan kepribadian, fase ini mencangkup tugas perkembangan kebebasan belajar, penerimaan terhadap kekuatan personal, belajar untuk melampiskan ungkapan negatif seperti amarah dan agresi.

            (3) tahap palus: 3-6 tahun, konflik dasar pada nafsu seks antar keluarga terdekat. Tahap palus pria yang dikenal dengan oedipus kompleks, pada wanita disebut elektra kompleks. 

            (4) tahap laten: 6-12 tahun.
           
(5) tahap genetal: 12-18 tahun, tahap ini adalah tahap pubertas, dan terus berlangsung sampai pada tahap senital.

            (6) tahap dewasa, yang terbagi dewasa awal, usia setengah baya dan usia senja. Tugas perkembangan dewasa awal yaitu menjalin hubungan yang akrab. Setengah baya merupakan tahap penyesuaian antar apa yang dicapai dengan apa yang diinginkan. Usia senja adalah pemaknaan dari apa ynag telah didapat atau menyesal telah apa yang dilakukan.




D.  Aplikasi Teori dalam Konseling


1.                  Manusia adalah Makhluk yang Memiliki Kebutuhan dan Keinginan”.  Konsep ini dapat dikembangkan dalam proses bimbingan, dengan melihat hakikatnya manusia itu memiliki kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan dasar. Dengan demikian konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh konseli, sehingga bimbingan yang dilakukan benar-benar efektif.


2.                  Kecemasan” yang dimiliki manusia dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yakni membantu individu  supaya mengerti dirinya dan lingkungannya; mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana; mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya; mampu mengelola aktivitasnya sehari-hari dengan baik dan bijaksana; mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, sosial, dalam masyarakat.
3.                  Dengan demikian kecemasan yang dirasakan akibat ketidakmampuannya dapat diatasi dengan baik dan bijaksana. Karena  setiap manusia  selalu hidup dalam kecemasan, kecemasan karena manusia akan punah, kecemasan karena tidak dapat bersosialisasi dengan lingkungan dll,

4.                  Bimbingan   merupakan wadah dalam rangka mengatasi kecemasan.


5.                  Pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Walaupun banyak para ahli yang mengkritik, namun dalam beberapa hal konsep ini sesuai dengan konsep pembinaan dini bagi anak-anak dalam pembentukan moral individual. Dalam sistem pemebinaan akhlak individual,  keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anaknya agar dapat tumbuh berkembang sesuai dengan norma agama dan sosial. Norma-norma ini tidak bisa datang sendiri, akan tetapi melalui proses interaksi yang panjang dari dalam lingkungannya. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik.

6.                  Tahapan Perkembangan Kepribadian Individu” dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberi arti bahwa materi, metode dan pola bimbingan harus disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakter dan sifat yang berbeda. Oleh karena itu konselor yang melakukan bimbingan haruslah selalu melihat tahapan-tahapan perkembangan ini, bila ingin bimbingannya menjadi efektif.


8.                  Ketidaksadaran” dapat digunakan dalam proses  bimbingan yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi impuls-impuls dorongan Id yang bersifat irrasional  sehingga berubah menjadi rasional.


E.    Tujuan Terapi

  1. Membuat tidak  sadar menjadi sadar;
  2. Mengatasi tahap-tahap perkembangan tidak terpecahkan
  3. Membantu klien belajar dan mengatasi dalam menyesuaikan
  4. Rekonstruksi kepribadian.


F.    Peranan Konselor

  1. Konselor sebagai ahli; mendorong transferensi dan ekspolrasi ketidaksadaran, menggunakan interpretasi.
  2. Konselor bersikap anonim, artinya konselor berusaha tidak dikenal klien, dan bertindak sedikit sekali memperlihatkan perasaan dan pengalamannya. Tujuannya agar klien dengan mudah memantulkan perasaan kepada konselor. Pemantulan ini merupakan proyeksi klien yang menjadi bahan analisis bagi konselor (Willis, 2004: 16)

 

G.   Hubungan Antara Terapis Dan Klien


Hubungan antara klien dengan penganalisis dikonseptualisasikan dalam proses  transferensi, yang merupakan inti dari pendekatan psikoanalitik. Transferensi memberi peluang bagi klien untuk melekat pada diri terapis tanggung jawab dari urusan yang belum terselesaikan” yang berasal dari hubungan masa lalu. Transferensi terjadi manakala klien bangkit kembali dari konflik-konflik berat usia dini yang ada hubungannya dengan cinta kasih, seksualitas, permusuhan,  keresahan dan kemarahan, membawanya ke masa kini, mengalaminya kembali dan lekatannya pada diri penganalisis (Corey, 1995: 169). Pada proses transferensi ini, klien dapat secara bebas mengungkapkan pengalaman-pengalamnnya agar terapis dapat mengetahui masalah yang dihadapi klien secara lebih detail.

 

H.  Tehnik  Terapi


  1. Asosiasi Bebas, merupakan teknik sentral dari psikoanalisis. Esensinya adalah bahwa klien melaju bersama pikirannya ataupun pendapat dengan jalan serta melaporkannya tanpa ada sensor. Asosiasi merupakan salah satu dari peralatan dasar sebagai pembuka pintu keinginan, khayalan, konflik, serta motivasi yng tidak disadari. (Corey, 1995; 174)
2.      Interpretasi, terdiri dari apa yang oleh penganalisis dinyatakan, diterangkan, dan bahkan diajarkan kepada klien arti dari perilaku yang dimanifestasikan dalam mimpi, asosiasi bebas, penentangan dan hubungan teraupetik itu sendiri. Fungsinya adalah memberi peluang kepada ego untuk mengasimilasikan materi baru dan dan untuk mempercepat proses menguak materi diluar kesadaran selanjutnya (Corey, 1995; 174).
3.      Analisis mimpi merupakan prosedur yang penting untuk bisa mengungkapkan materi tidak disadari dan untuk bisa memberi klien suatu wawasan ke dalam kawasan problem yang tak terselesaikan (Corey, 1995; 175).
4.      analisis resistensi ditujukkan untuk menyadarkan klien terhadap alasan-alasan terjadinya resistensinya konselor meminta klien menafsirkan resistensi (Willis,  2004: 63)..

5.      analisis transferensi. Konselor mengusahakan klien mengembangkan transferensinya agar terungkap neorosisnya terutama pada usia selama lima tahun pertama dalam hidupnya. Konselor menggunakan sifat-sifat netral, objektif, anonim, dan pasif agar terungkap transferensi tersebut (Willis,  2004: 63). 


~~~~~~~~~~~~~

Materi kuliah model-model konseling:
      Mahasiswa dapat menggunakan salah satu pendekatan ini dalam pelaksanaan layanan konseling. Ada beberapa pendekatan, dan setiap pendekatan memiliki kekebihan dan kekurangan, selain juga memiliki ciri khasnya masing-masing.
      
      ~dosen pengampu: dakhandayani






Rabu, 01 Oktober 2014

Program Konseling Karier 1




Contoh Program Konseling Karier di Sekolah:
Sebelum konselor melaksanakan layanan konseling karier, hendaknya terlebih dahulu menyusun program untuk mengetahui kebutuhan layanan dan permasalahan yang dihadapi oleh siswa.
Disini akan diketahui kompetensi yang akan dicapai, apa materi yang akan diberikan, jenis layanan apa yang akan digunakan, barangkali ada kegiatan pendukung apa yang akan digunakan. Bagaimana rencana penilaiannya, serta adakah pihak ketiga yang dilibatkan dalam kegiatan ini?

Ini merupakah materi kuliah Konseling Karier di Sekolah, yang saya berikan kepada mahasiswa saya. Jika anda berminat mengcopi, saya persilahkan. Jangan lupa tinggalkan komentar atau Likenya yaa,,